Sabtu, 11 Juni 2016

Sejarah Indonesia : Peradaban Awal di Kepulauan Indonesia

A. Sebelum Mengenal Tulisan.
      Pra-aksara berasal dari dua kata, yakni pra yang berarti sebelum dan aksara yang berarti tulisan. Jadi, zaman pra-aksara adalah masa kehidupan manusia sebelum mengenal tulisan. Untuk menyelidiki zaman pra-aksara, para sejarawan harus menggunakan metode penelitian ilmu arkeologi dan juga ilmu alam seperti geologi dan biologi. Ilmu arkeologi  adalah bidang ilmu yang mengkaji bukti-bukti atau jejak tinggalan fisik, seperti lempeng artefak, monumen, candi dan sebagainya.
B. Terbentuknya Kepulauan Indonesia
     Teori "Dentuman Besar" (Big Bang), seperti yang dikemukakan oleh ilmuwan besar Inggris, Stephen Hawking menyatakan bahwa alam semesta mulanya berbentuk gumpalan gas yang mengisi seluruh ruang jagad raya.
     Proses evolusi bumi dibagi menjadi beberapa periode sebagai berikut :

  1. Azoikum dalam bahasa Yunani (a berarti tidak dan zoon berarti hewan), yaitu zaman sebelum adanya kehidupan. Pada masa  ini bumi baru terbentuk dengan suhu yang relatif tinggi dan berlangsung sekitar 1 miliar tahun yang lalu.
  2. Palaezoikum, yaitu zaman purba tertua. Pada masa ini sudan meninggalkan fosil flora dan fauna dan berlangsung sekitar 350 juta tahun yang lalu.
  3. Mesozoikum, yaitu zaman purba tengah. Pada masa ini hewan mamalia (menyusui), hewan amfibi, burung dan tumbuhan berbunga mulai ada. Lamanya kira-kira 140 juta tahun yang lalu.
  4.  Neozoikum, yaitu zaman purba     baru, yang dimulai sejak 60 juta tahun yang lalu. Zaman ini dapat dibagi lagi menjadi dua tahap (Tersier dan Quarter).
C. Mengenal Manusia Purba.
      Dibawah ini akan dijelaskan beberapa penemuan penting fosil manusia di beberapa tempat sebagai berikut:
   1. Sangiran
         Situs Sangiran merupakan suatu kubah raksasa yang berupa cekungan besar di pusat kubah akibat adanya erosi di bagian puncaknya. Situs Sangiran menjadi sangat terkenal berkaitan dengan penemuan fosil Homo Erectus secara sporadis dan berkesinambungan. Homo Erectus adalah takson paling penting dalam sejarah manusia, sebelum masuk pada tahapan manusia Homo Sapiens, manusia modern. Situs ini ditetapkan secara resmi sebagai Warisan Dunia pada tahun 1996, yang tercantum dalam nomor 593 Daftar Warisan Dunia (World Heritage List) UNESCO.
    2. Trinil, Ngawi, Jawa Timur.
         Trinil adalah sebuah desa di pinggiran Bengawan Solo, masul wilayah administrasi Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Penemuan tengkorak Pithecanthropus Erectus dari Trinil sangat pendek tetapi memanjang ke belakang. Volume otaknya sekitar 900 cc, diantara otak kera 600 cc dan otak manusia modern 1.200-1.400 cc.
         Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh para ahli, terdapat beberapa jenis manusia purba yang pernah hidup di zaman pra-aksara yaitu sebagai berikut:
     1) Jenis Meganthropus.
              Jenis manusia purba ini terutama berdasarkan penelitian Von Koeningswald di Sangiran tahun 1936 dan 1941 yang menemukan fosil rahang manusia yang berukuran besar. Dari hasil rekonstruksi ini kemudian para ahli menamakan jenis manusia ini dengan sebutan "Meganthropus Paleojavanicus", yang artinya manusia raksasa dari Jawa. Jenis manusia purba ini memiliki ciri rahang yang kuat dan badannya tegap.
     2) Jenis Pithecanthropus.
              Jenis manusia ini didasarkan pada penelitian Eugene Dubois pada tahun 1890 di dekat Trinil, sebuah desa di pinggiran Bengawan Solo, di wilayah Ngawi. Setelah direkonstruksi terbentuk kerangka manusia, tetapi masih terlihat tanda-tanda kera. Jenis ini dinamakan Pithecanthropus Erectus, yang artinya manusia kera yang berjalan tegak. Jenis ini juga ditemukan di Mojokerto, sehingga disebut Pithecanthropus Mojokertensis.
     3) Jenis Homo.
              Fosil jenis Homo ini pertama kali diteliti oleh Von Reitschoten di Wajak. Penelitian dilanjutkan oleh Eugene Dubois bersama kawan-kawan dan menyimpulkan sebagai jenis Homo. Ciri-ciri jenis manusia Homo ini bermuka lebar, hidung dan mulutnya menonjol. Dahi juga masih menonjol, bentuk fisiknya tidak jauh berbeda dengan manusia sekarang. Hidup dan perkembangan jenis manusia ini sekitar 40.000-25.000 tahun yang lalu.
        Homo Sapiens artinya "Manusia Sempurna" baik dari segi fisik, volume otak maupun postur badannya yang tidak jauh berbeda dengan manusia modern. Homo Sapiens memiliki kapasitas otak yang jauh lebih besar (rata-rata 1.400 cc), dengan atap tengkorak yang jauh lebih bundar dan lebih tinggi dibandingkan dengan Homo Erectus yang mempunyai tengkorak panjang dan rendah dengan kapasitas otak 1.000 cc.
       Dalam perkembangannya, kehidupan manusia modern dapat dikelompokkan menjadi tiga tahap, yaitu sebagai berikut:

  • Kehidupan manusia modern awal yang kehadirannya hingga akhir zaman es (sekitar 12.000 tahun yang lalu).
  • Kehidupan manusia modern yang lebih belakangan, dan berdasarkan karakter fisiknya dikenal sebagai ras Austromelanesoid.
  • Mulai disekitar 4.000 tahun lalu muncul penghuni baru di Kepulauan Indonesia yang dikenal sebagai penutur bahasa Austronesia.
              Beberapa penggolongan manusia Homo Sapiens dapat dikelompokkan sebagai berikut:
A) Manusia Wajak.
          Pada tahun 1889, manusia Wajak ditemukan oleh B.D. Van Rietschoten disebuah ceruk di lereng pegunungan karst di barat laut Campurdarat, dekat Tulungagung, Jawa Timur. Ras Wajak ini merupakan penduduk Homo Sapiens yang kemudian menurunkan ras-ras yang kemudian kita kenal sekarang.
B) Manusia Liang Bua.
          Liang Bua secara harfiah merupakan sebuah gua yang dingin. Sebuah gua yang sangat lebar dan tinggi dengan permukaan tanah yang datar merupakan tempat bermukim yang nyaman bagi manusia pada masa pra-aksara. Liang Bua merupakan sebuah temuan manusia modern awal dari akhir masa Pleistosen di Indonesia yang menakjubkan yang diharapkan dapat menyibak asal-usul manusia di Kepulauan Indonesia.
       Manusia Liang Bua mempunyai ciri tengkorak yang panjang dan rendah, berukuran kecil, dengan volume otak 380 cc. Kapasitas kranial tersebut berada jauh di bawah Homo Erectus (1.000 cc), manusia modern Homo Sapiens (1.400 cc), dan bahkan berada di bawah volume otak simpanse (450 cc).



       

Tidak ada komentar:

Posting Komentar